Artikel24 January 20233 Menit Baca

Sepenggal Tauladan Siti Hajar, Sejarah Air Zam Zam

Disusun oleh: Dewan Asatidz Samira TravelIzin PPIU No. 137/2020
Sepenggal Tauladan Siti Hajar, Sejarah Air Zam Zam - Panduan Ibadah Samira Travel
Bagikan Artikel Ini:

Ibadah sa'i yang dilakukan jamaah haji dan umroh merekam jejak keteguhan Siti Hajar saat mencari air di tengah lembah Mekah yang tandus. Gerakan fisik bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit...

Ibadah sa'i yang dilakukan jamaah haji dan umroh merekam jejak keteguhan Siti Hajar saat mencari air di tengah lembah Mekah yang tandus. Gerakan fisik bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh putaran bukan sekadar ritual mekanis, melainkan napak tilas atas puncak kepasrahan (tawakal) yang dibarengi ikhtiar lahiriah maksimal hingga Allah memancarkan mata air Zamzam.

Poin Penting

1. Sa'i merupakan rukun haji dan umroh yang sah bila dilakukan 7 kali putaran, dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah.

2. Sejarah mata air Zamzam dan prosesi Sa'i berakar langsung dari ketaatan Nabi Ibrahim 'alaihissalam serta kegigihan Siti Hajar merawat Nabi Ismail 'alaihissalam.

3. Mata air Zamzam menjadi tonggak awal peradaban Kota Mekah, mengubah lembah sunyi tak berpenghuni menjadi pusat peribadatan umat Islam dunia.

Ketetapan Langit di Lembah Bakkah

Kisah agung ini berawal ketika Nabi Ibrahim 'alaihissalam diperintahkan oleh Allah SWT untuk membawa istrinya, Siti Hajar, dan putranya yang masih menyusu, Ismail 'alaihissalam, menuju suatu lembah tandus tak berpenghuni di dekat Baitullah (yang saat itu belum dibangun kembali). Tempat itu kering kerontang, tanpa pohon, dan tanpa sumber mata air setetes pun.

Ketika Nabi Ibrahim bersiap memutar langkah untuk kembali ke Syam, Siti Hajar membuntuti suaminya sambil bertanya:

Catatan Penting

*"Wahai Ibrahim, hendak ke mana engkau pergi dan meninggalkan kami di lembah yang sunyi ini, tanpa bekal dan pelindung?"*

Nabi Ibrahim memilih diam dan terus melangkah, menahan gejolak perasaan manusiawinya sebagai seorang ayah dan suami atas perintah Tuhannya. Pertanyaan tersebut diulang beberapa kali tanpa ada jawaban, hingga Siti Hajar menyadari hakikat di balik sikap sang suami. Ia kemudian mengubah pertanyaannya:

Catatan Penting

*"Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?"*

Nabi Ibrahim pun menjawab tegas, *"Ya."*

Mendengar penegasan tersebut, keraguan Siti Hajar seketika lenyap. Dengan ketauhidan yang kokoh, ia berkata:

Catatan Penting

*"Jika demikian, niscaya Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kami."*

Peristiwa ini menjadi tolok ukur tertinggi dari konsep iman: ketenangan batin hanya lahir saat seorang hamba menyerahkan sepenuhnya kendali hidup kepada ketetapan syariat, tanpa menuntut logika manusia bekerja mendahului ketentuan Ilahi.

Ikhtiar Tujuh Kali Bolak-Balik: Lahirnya Ibadah Sa'i

Sepeninggal Nabi Ibrahim, perbekalan air dan kurma yang ditinggalkan habis. Air susu Siti Hajar mengering karena dehidrasi, sementara Ismail kecil mulai menangis histeris kehausan hingga tubuhnya tampak melemah.

Sebagai seorang ibu, Siti Hajar tidak duduk berpangku tangan menunggu mukjizat turun begitu saja dari langit. Dari dasar lembah, ia memandang sekeliling dan melihat tempat tinggi terdekat, yaitu Bukit Shafa. Ia menaiki bukit tersebut, mengarahkan pandangan ke seluruh penjuru mata angin untuk mencari rombongan kafilah atau tanda-tanda keberadaan air. Hasilnya nihil.

Ia bergegas menuruni bukit, mengangkat ujung bajunya agar leluasa melangkah, lalu mempercepat lari saat melintasi lembah tengah (Bathnul Waadi) menuju bukit di seberangnya, yakni Bukit Marwah. Dari puncak Marwah, ia kembali menatap lembah, namun tetap tidak mendapati siapapun.

Siti Hajar mengulangi langkah tersebut bolak-balik:

  • Dari Shafa ke Marwah dihitung sebagai putaran ke-1
  • Dari Marwah ke Shafa dihitung sebagai putaran ke-2
  • Berlanjut hingga tuntas pada putaran ke-7 di Bukit Marwah

Total jarak yang ditempuh Siti Hajar mencapai sekitar 2,8 kilometer di bawah terik matahari jazirah Arab. Pola perjalanan fisik ini diabadikan syariat Islam sebagai rukun Sa'i yang wajib dikerjakan oleh seluruh jamaah haji dan umroh hingga hari kiamat.

Pancaran Air Zamzam dan Awal Peradaban Mekah

Setibanya di Bukit Marwah pada putaran ketujuh, Siti Hajar mendengar suara hening. Ia berusaha menenangkan diri dan berkata pada dirinya sendiri, *"Tenanglah, dengarkan baik-baik."*

Suara itu terdengar kembali. Siti Hajar lalu menyeru, *"Aku telah mendengarmu, tolonglah jika engkau membawa kebaikan!"*

Seketika Malaikat Jibril menampakkan wujudnya di dekat posisi Ismail terbaring. Dengan tumitnya atau sayapnya, Jibril menghentak tanah hingga air memancar deras dari perut bumi. Menyaksikan luapan air tersebut, Siti Hajar tergesa-gesa membendungnya dengan pasir dan batu sambil berucap: *"Zam-zam, zam-zam"* (yang bermakna: berkumpullah, berkumpullah), agar air tidak mengalir sia-sia ke padang pasir.

Rasulullah ﷺ dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari bersabda:

Catatan Penting

*"Semoga Allah merahmati Ummu Ismail (Siti Hajar). Seandainya ia membiarkan Zamzam mengalir tanpa membendungnya, niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di atas permukaan bumi."*

Sumber air tersebut menarik perhatian kabilah Jurhum yang sedang melintasi jalur perdagangan gurun. Mereka melihat kawanan burung berputar-putar di atas lembah—tanda mutlak adanya air. Kabilah Jurhum kemudian meminta izin kepada Siti Hajar untuk mendirikan kemah dan tinggal di area tersebut tanpa mengambil hak kepemilikan sumur. Dari titik inilah peradaban kota Mekah bermula.

Perbandingan Ketentuan Sa'i: Masa Siti Hajar vs. Fikih Masa Kini

Untuk mempermudah pemahaman jamaah saat manasik, berikut perbandingan pelaksanaan ikhtiar Siti Hajar dengan tata cara Sa'i yang berlaku saat ini:

  • Aspek: Lokasi Awal & Akhir; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: Mulai dari Shafa, berakhir di Marwah; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: Wajib dimulai dari Shafa, berakhir di Marwah
  • Aspek: Jumlah Putaran; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: 7 kali perjalanan fisik; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: 7 putaran sah (Shafa ke Marwah dihitung satu)
  • Aspek: Kondisi Jalur; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: Lembah pasir berbatu terjal, terbuka; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: Bangunan Mas'a bertingkat, lantai marmer berpendingin udara
  • Aspek: Lari Kecil / Cepat; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: Siti Hajar berlari di dasar lembah; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: Sunnah bagi jamaah pria di area lampu hijau; wanita cukup jalan biasa
  • Aspek: Status Kesucian; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: Keadaan darurat padang pasir; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: Sah dilakukan tanpa wudhu, wanita haid/nifas tetap sah bersa'i
  • Aspek: Target Hasil; Ikhtiar Sejarah Siti Hajar: Bertahan hidup & menyelamatkan anak; Pelaksanaan Sa'i Jamaah Saat Ini: Menyempurnakan rukun haji/umroh & meneladani kepasrahan

Panduan Teknis Sa'i bagi Jamaah Haji dan Umroh

Agar pelaksanaan Sa'i sesuai dengan tuntunan sunnah, perhatikan panduan praktis berikut sebelum turun ke area Mas'a (tempat sa'i):

  1. 1.Memastikan Thawaf Telah Selesai: Sa'i tidak sah apabila dilakukan mendahului ibadah thawaf. Selesaikan 7 putaran thawaf dan shalat sunnah thawaf terlebih dahulu.
  2. 2.Kondisi Fisik dan Wudhu: Meski Sa'i sah dilakukan dalam keadaan batal wudhu atau wanita sedang haid, menjaga wudhu tetap dianjurkan guna mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.
  3. 3.Pemberangkatan dari Shafa: Naiklah ke Bukit Shafa, menghadap ke arah Ka'bah, lalu angkat kedua tangan untuk bertakbir dan membaca doa sunnah sebelum melangkah menuju Marwah.
  4. 4.Perhatikan Marka Lampu Hijau: Saat mendekati area pilar dengan pencahayaan lampu hijau (Bathnul Waadi), jamaah laki-laki disunnahkan melakukan *raml* (lari-lari kecil). Jamaah perempuan dilarang berlari dan tetap berjalan dengan langkah biasa.
  5. 5.Tahallul di Akhir Putaran: Putaran ke-7 berakhir di Bukit Marwah. Setelah berdoa, prosesi Sa'i ditutup dengan memotong rambut (tahallul) minimal 3 helai rambut bagi wanita, dan disunnahkan cukur gundul (*tahliq*) bagi pria.

Tanya Jawab Seputar Sa'i dan Kisah Siti Hajar (FAQ)

1. Apakah jamaah yang menggunakan kursi roda atau skuter listrik mendapatkan pahala yang sama dengan yang berjalan kaki?

Bagi jamaah yang memiliki uzur syar'i seperti lanjut usia, sakit, atau cedera fisik, penggunaan kursi roda manual maupun skuter matik resmi Masjidil Haram diperbolehkan dan ibadahnya sah tanpa membayar dam. Semangat ikhtiar dinilai dari ketulusan niat mengikuti rukun, bukan dari memaksakan diri hingga membahayakan keselamatan jiwa.

2. Mengapa wanita yang sedang haid dibolehkan bersa'i tetapi dilarang thawaf?

Thawaf mewajibkan kesucian dari hadas besar dan kecil karena status area thawaf berada di dalam masjid dan sejajar dengan shalat. Sedangkan area Sa'i (Mas'a) secara historis dan hukum fikih asal berada di luar batas Masjidil Haram, meskipun perluasan modern kini menyatukan bangunannya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Aisyah radhiyallahu 'anha saat ia haid: *"Lakukanlah apa yang dilakukan orang yang berhaji, hanya saja jangan thawaf di Ka'bah sampai engkau suci."*

3. Berapa liter air Zamzam resmi yang boleh dibawa pulang jamaah ke Tanah Air?

Sesuai aturan otoritas penerbangan sipil Arab Saudi (GACA) dan maskapai penerbangan haji/umroh, jamaah dilarang memasukkan jeriken air Zamzam ke dalam koper bagasi tercatat (*checked baggage*). Jamaah reguler umumnya difasilitasi jatah 5 liter per orang yang didistribusikan langsung di bandara kepulangan Indonesia, tergantung regulasi paket maskapai yang digunakan.

Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi

Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda

Bagikan Artikel Ini:

Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel

Akreditasi A

Disusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.

Wujudkan Niat Menuju Baitullah

Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?

Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.

Literasi Terkait

Artikel Edukasi Terkait Lainnya

Lihat 400 Panduan
Syarat Visa Umroh Terbaru 2026: Dokumen dan Ketentuannya - Samira Travel
Artikel
29 August 20261 mnt baca

Syarat Visa Umroh Terbaru 2026: Dokumen dan Ketentuannya

Syarat visa Umroh terbaru 2026 mewajibkan setiap calon jamaah untuk memiliki paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan, bukti reservasi akomodasi serta tiket penerbangan pulang-pergi yang valid, sertifikat vaksinasi meningitis...

Samira TravelBaca