Artikel25 January 20232 Menit Baca

Sejarah Hajar Aswad, Batu dari Surga yang Menghitam

Disusun oleh: Dewan Asatidz Samira TravelIzin PPIU No. 137/2020
Sejarah Hajar Aswad, Batu dari Surga yang Menghitam - Panduan Ibadah Samira Travel
Bagikan Artikel Ini:

Hajar Aswad adalah batu mulia yang diletakkan di sudut tenggara Ka'bah, berfungsi sebagai titik awal (*start*) dan akhir (*finish*) putaran tawaf bagi jamaah haji dan umroh. Berdasarkan hadis shahih riwayat...

Hajar Aswad adalah batu mulia yang diletakkan di sudut tenggara Ka'bah, berfungsi sebagai titik awal (*start*) dan akhir (*finish*) putaran tawaf bagi jamaah haji dan umroh. Berdasarkan hadis shahih riwayat Imam At-Tirmidzi, batu ini aslinya berwarna putih cemerlang melebihi susu saat diturunkan dari surga, namun berubah menjadi hitam pekat akibat dosa-dosa anak keturunan Nabi Adam AS.

Poin Penting

1. Asal-Usul Samawi: Hajar Aswad dibawa oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT untuk melengkapi susunan dinding Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

2. Hukum Ibadah: Mencium (*taqbil*) atau menyentuh (*istilam*) batu ini berstatus sunnah muakkadah, namun menjaga keselamatan diri dan tidak menyakiti jamaah lain hukumnya wajib.

3. Alternatif Tawaf: Jika kondisi fisik matap (area tawaf) padat sesak, jamaah cukup melambaikan tangan kanan ke arah rukun Hajar Aswad sambil mengucap *"Bismillahi Allahu Akbar"* tanpa harus memaksakan diri menciumnya.

Sejarah Penempatan Hajar Aswad di Dinding Ka'bah

Dalam kitab *Qishash al-Anbiyaa’*, Ibnu Katsir menerangkan bahwa ketika pembangunan dinding Ka'bah mendekati rampung, Nabi Ibrahim mendapati satu sudut dinding yang masih kekurangan batu pengunci. Beliau kemudian menugaskan putranya, Nabi Ismail, untuk menyusuri perbukitan Makkah guna mencari sebongkah batu penutup yang pas.

Di tengah pencariannya di Jabal Qubais, Nabi Ismail dihampiri oleh Malaikat Jibril yang membawakan sebutir batu putih berkilau dari surga. Nabi Ismail menerima batu tersebut dengan takzim dan membawanya pulang.

Melihat batu istimewa itu, Nabi Ibrahim bertanya: *"Dari mana kamu peroleh batu ini?"* Nabi Ismail menjawab: *"Batu ini aku dapat dari pihak yang tidak memberatkan urusanku dan urusan keturunanmu kelak (yakni titipan Allah melalui Malaikat Jibril)."*

Keduanya mencium batu itu, meletakkannya di rukun timur Ka'bah, dan sejak saat itulah Hajar Aswad menjadi patokan arah tawaf kaum beriman hingga akhir zaman.

Peristiwa Pemugaran Ka'bah oleh Suku Quraisy

Berabad-abad kemudian, saat Rasulullah ﷺ berusia 35 tahun (sebelum masa kenabian), Makkah dilanda banjir bandang yang meretakkan dinding Ka'bah. Suku-suku Quraisy bergotong royong merenovasinya. Namun, saat tiba waktunya meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya, timbul perselisihan tajam antar-kabilah yang hampir memicu pertumpahan darah.

Rasulullah ﷺ tampil memberikan solusi yang adil: beliau membentangkan kain serbannya, menaruh Hajar Aswad tepat di tengah, lalu meminta setiap kepala kabilah memegang ujung kain dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah tiba di posisinya, Rasulullah ﷺ sendiri yang meletakkan batu tersebut ke sudut dinding Ka'bah dengan kedua tangan beliau yang mulia.

Kedudukan Teologis dan Pandangan Sayyidina Umar bin Khattab

Islam melarang keras segala bentuk pengultusan benda mati. Menyentuh maupun mencium Hajar Aswad murni merupakan bentuk *ittiba'* (mengikuti teladan) sunnah Rasulullah ﷺ, bukan pemujaan kepada batu.

Sikap ini ditegaskan secara lugas oleh Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu saat berada di depan Ka'bah:

Catatan Penting

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

*"Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu betul bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu."* (HR. Muslim).

Doa Saat Mengusap atau Menghadap Hajar Aswad

Ketika berhadapan sejajar dengan garis lurus Hajar Aswad di area tawaf, jamaah disunnahkan melafalkan doa berikut:

Catatan Penting

**بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

*"Bismillâhi wa-Llâhu akbar, allâhumma îmânan bika wa tashdîqan bikitâbika wa wafâ’an bi ‘ahdika wat tibâ‘an li sunnati nabiyyika muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam."*

Artinya: "Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, demi iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji kepada-Mu, serta mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam."

Panduan dan Tingkatan Sunnah bagi Jamaah Tawaf

Kepadatan area mathaf di Masjidil Haram sering kali mencapai titik ekstrem, terutama pada musim haji dan puncak bulan Ramadhan. Berdasarkan fikih manasik, pelaksanaan sunnah Hajar Aswad memiliki tiga tingkatan:

  • Tingkatan Sunnah: Utama (Afzal); Tindakan Teknis: Menyentuhkan tangan kanan lalu mencium batu secara langsung (*taqbil*).; Syarat Kondisi: Area sekitar Ka'bah longgar, tidak ada desakan berisiko.
  • Tingkatan Sunnah: Menengah; Tindakan Teknis: Menyentuh permukaan batu dengan tongkat/kain lalu mencium ujung benda tersebut.; Syarat Kondisi: Jamaah berada cukup dekat namun terhalang pagar pengaman.
  • Tingkatan Sunnah: Pengganti Praktis; Tindakan Teknis: Menghadapkan badan ke arah Hajar Aswad, melambaikan tangan kanan sekali, dan mengucap takbir tanpa mencium tangan.; Syarat Kondisi: Area tawaf padat, membawa lansia, atau berisiko terinjak.

Aturan Keselamatan Jamaah:

  1. 1.Dilarang Menyikut dan Mendorong: Melukai fisik sesama muslim hukumnya haram, sementara mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah. Membatalkan yang wajib demi mengejar yang sunnah adalah kekeliruan fatal.
  2. 2.Hindari Jasa Calo Liar: Jangan pernah menggunakan tawaran jasa orang tak dikenal yang menjanjikan pengawalan mencium Hajar Aswad dengan meminta imbalan uang (Riyal) di area Ka'bah. Cara ini melanggar aturan Askar (keamanan masjid) dan membahayakan keselamatan fisik jamaah.
  3. 3.Prioritaskan Kelancaran Tawaf: Putaran tawaf tidak boleh terputus atau berhenti lama di sudut Hajar Aswad karena dapat menciptakan sumbatan arus fatal (*stampede*) di belakang Anda.

Tanya Jawab Seputar Hajar Aswad (FAQ)

1. Apakah sah tawaf seseorang jika sama sekali tidak mencium atau menyentuh Hajar Aswad?

Tawafnya sah secara mutlak. Syarat sah tawaf adalah suci dari hadas, menutup aurat, dan menyempurnakan 7 putaran penuh mengelilingi Ka'bah dari arah Hajar Aswad. Mencium batu tersebut murni amalan pelengkap (*sunnah hay'ah*), bukan rukun maupun wajib tawaf.

2. Kenapa Hajar Aswad saat ini terlihat seperti kumpulan pecahan batu dalam bingkai perak?

Hajar Aswad pernah mengalami berbagai peristiwa sejarah fisik, salah satunya perampasan dan pemecahan oleh sekte Qaramithah pada abad ke-4 Hijriah. Saat ini, Hajar Aswad terdiri dari 8 pecahan batu kecil yang direkatkan dengan adonan khusus berbahan dasar damar dan dilindungi bingkai perak murni setinggi 1,5 meter dari lantai pelataran.

Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi

Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda

Bagikan Artikel Ini:

Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel

Akreditasi A

Disusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.

Wujudkan Niat Menuju Baitullah

Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?

Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.

Literasi Terkait

Artikel Edukasi Terkait Lainnya

Lihat 400 Panduan
Syarat Visa Umroh Terbaru 2026: Dokumen dan Ketentuannya - Samira Travel
Artikel
29 August 20261 mnt baca

Syarat Visa Umroh Terbaru 2026: Dokumen dan Ketentuannya

Syarat visa Umroh terbaru 2026 mewajibkan setiap calon jamaah untuk memiliki paspor dengan masa berlaku minimal 6 bulan, bukti reservasi akomodasi serta tiket penerbangan pulang-pergi yang valid, sertifikat vaksinasi meningitis...

Samira TravelBaca