
Tim medis darurat dari Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi (Saudi Red Crescent Authority/SRCA) berhasil menyelamatkan nyawa seorang jamaah umroh asal Indonesia berusia 50 tahun yang mengalami serangan jantung mendadak di...
Tim medis darurat dari Otoritas Bulan Sabit Merah Saudi (Saudi Red Crescent Authority/SRCA) berhasil menyelamatkan nyawa seorang jamaah umroh asal Indonesia berusia 50 tahun yang mengalami serangan jantung mendadak di area Mas'a (jalur Sa'i), Masjidil Haram, Makkah. Respons cepat dalam hitungan empat menit dan penggunaan alat kejut jantung otomatis (AED) menjadi faktor utama keberhasilan penyelamatan tersebut.
1. Respon cepat tim darurat SRCA tiba di lokasi dalam 4 menit dan langsung memberikan tindakan CPR serta defibrilasi (AED).
2. Pasien berhasil dipulihkan detak jantungnya sebelum dievakuasi ke Rumah Sakit Darurat Ajyad yang berlokasi persis di pelataran Masjidil Haram.
3. Kematian akibat serangan jantung dan kelelahan ekstrem masih menempati urutan teratas risiko kesehatan jamaah Indonesia di Tanah Suci.
Kronologi Penyelamatan di Jalur Sa'i
Kejadian bermula ketika jamaah pria paruh baya tersebut sedang menuntaskan rangkaian ibadah umroh di area Mas'a. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis *Saudi Gazette*, korban mendadak kolaps, kehilangan kesadaran, dan berhenti bernapas akibat henti jantung mendadak (*sudden cardiac arrest*).
Petugas lapangan yang berjaga langsung mengirimkan sinyal darurat ke pusat komando SRCA. Tim medis reaksi cepat tiba di titik lokasi hanya dalam kurun waktu empat menit. Setibanya di tempat, petugas medis langsung mengambil langkah penyelamatan kritis:
- Melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) secara berkesinambungan.
- Memasang alat *Automated External Defibrillator* (AED) portabel untuk mendeteksi ritme fatal dan menghantarkan kejutan listrik jantung.
- Memberikan bantuan ventilasi oksigen darurat hingga sirkulasi spontan (*Return of Spontaneous Circulation*/ROSC) tercapai dan denyut nadi pasien kembali teraba.
Setelah kondisi vital dinyatakan cukup stabil untuk dipindahkan, pasien langsung dievakuasi menggunakan tandu khusus menuju Rumah Sakit Darurat Ajyad (Ajyad Emergency Hospital) yang berada di samping pelataran Masjidil Haram untuk penanganan intensif lanjutan.
Kesiapsiagaan Fasilitas Medis di Masjidil Haram
Peristiwa ini membuktikan keseriusan Pemerintah Arab Saudi dalam memitigasi risiko medis di pusat-pusat ibadah. Saat ini, lebih dari 15 unit AED portabel disebar secara strategis di titik-titik rawan kerumunan dan area berintensitas fisik tinggi, seperti pelataran Mataf dan jalur Mas'a.
Selain AED statis, relawan medis bersepeda motor dan tim jalan kaki SRCA dibekali tas darurat lengkap yang siap menjangkau lorong-lorong padat jamaah tanpa terkendala kepadatan saf.
Faktor Risiko Jantung Jamaah Indonesia: Panas dan Beban Fisik
Aktivitas umroh bukanlah ibadah pasif. Thawaf mengitari Ka'bah sebanyak 7 putaran berjarak sekitar 1,4 hingga 2 kilometer (tergantung radius putaran). Dilanjutkan dengan Sa'i antara Shafa dan Marwah sepanjang 7 putaran yang menempuh jarak sekitar 2,8 kilometer. Total perjalanan fisik aktif mencapai minimal 4,5 hingga 5 kilometer di tengah udara kering dan perbedaan suhu ruangan yang ekstrem.
Bagi jamaah dengan riwayat penyakit penyerta (komorbid) seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, atau penyempitan pembuluh darah koroner, kombinasi dehidrasi, kelelahan, dan kurang istirahat dapat memicu iskemia miokard hingga henti jantung mendadak.
Rekomendasi Medis untuk Jamaah Risiko Tinggi (Risti)
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, berikut langkah pencegahan yang wajib diterapkan jamaah dan dikoordinasikan bersama Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU): Tahapan | Langkah Mitigasi yang Harus Dilakukan |
:--- | :--- |
Pra-Keberangkatan | Periksa rekam jantung (EKG/Treadmill) di Indonesia, pastikan membawa cadangan obat rutin jantung minimal untuk kebutuhan 14 hari di dalam tas kabin (*hand carry*). |
Saat di Makkah | Jangan langsung memaksakan umroh wajib setibanya di hotel jika baru menempuh perjalanan darat panjang dari Madinah atau Jeddah. Istirahat minimal 3–4 jam. |
Pelaksanaan Sa'i | Manfaatkan fasilitas skuter listrik sewaan atau kursi roda resmi jika merasakan dada sesak, pusing berputar, atau napas terasa berat. |
Hidrasi Tubuh | Minum air putih/Zamzam sedikit demi sedikit setiap 15–20 menit tanpa menunggu rasa haus muncul, guna menjaga kekentalan darah tetap stabil. |
SOP Penanganan Darurat bagi Tour Leader dan Jamaah Sekamar
Jika Anda mendapati rekan satu rombongan terjatuh atau tidak sadarkan diri di dalam Masjidil Haram, terapkan prosedur berikut:
- 1.Panggil Bantuan Segera: Teriakkan kata *"Is'af"* (ambulans/medis) kepada petugas keamanan berseragam (Askar) terdekat, atau tekan tombol darurat di tiang pilar terdekat.
- 2.Cek Respon: Tepuk pundak korban dengan tegas. Jika tidak merespons dan napas terhenti atau tersengal-sengal, minta orang di sekitar mencari kotak hijau bertuliskan "AED".
- 3.Hubungi Nomor Darurat: Nomor panggilan darurat medis resmi di wilayah Arab Saudi adalah 997 (Ambulans/Bulan Sabit Merah) dan 911 (Pusat Operasi Keamanan Terpadu Makkah).
- 4.Laporkan ke Tour Leader/Muthawwif: Tim pendamping travel wajib langsung berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah dan Kantor Urusan Haji (KUH) untuk pendampingan administrasi asuransi dan rekam medis rumah sakit.
Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi
Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda
Tanya Jawab (FAQ) Jamaah
1. Apakah biaya penanganan gawat darurat di RS Ajyad atau RS Arab Saudi ditanggung oleh jamaah?
Tindakan darurat awal (*life-saving*) di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan Arab Saudi umumnya diberikan secara cepat untuk menyelamatkan nyawa. Selanjutnya, pembiayaan rawat inap lanjutan ditanggung oleh skema asuransi visa umroh resmi yang diterbitkan oleh Kementerian Haji dan Umrah Saudi, sesuai plafon dan ketentuan polis aktif jamaah.
2. Apakah jamaah yang pernah pasang ring jantung tetap boleh melaksanakan umroh?
Boleh, selama sudah mengantongi surat izin layak terbang dan rekomendasi aktivitas dari dokter spesialis jantung di tanah air. Jamaah bersangkutan sangat disarankan menggunakan jasa kursi roda resmi atau skuter matik saat Thawaf dan Sa'i guna mencegah beban kerja jantung berlebih.
3. Bagaimana cara mengenali letak alat AED di Masjidil Haram?
Perangkat AED ditempatkan di dalam boks dinding berwarna putih atau hijau terang berlogo tanda tambah merah/bulan sabit dan lambang jantung berpetir, tersebar di dekat pos-pos pertolongan pertama (First Aid Points), dekat eskalator utama, dan di sepanjang lintasan lantai dasar Mas'a.
Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel
Akreditasi ADisusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.
Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?
Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.



