
Bulan Muharram dinamakan demikian karena secara harfiah kata *Al-Muharram* berarti "yang diharamkan" atau "yang disucikan". Penamaan ini merujuk pada ketetapan syariat bahwa pada bulan tersebut, Allah SWT mengharamkan segala bentuk...
Bulan Muharram dinamakan demikian karena secara harfiah kata *Al-Muharram* berarti "yang diharamkan" atau "yang disucikan". Penamaan ini merujuk pada ketetapan syariat bahwa pada bulan tersebut, Allah SWT mengharamkan segala bentuk peperangan, pertumpahan darah, dan melarang keras umat manusia berbuat zalim atau maksiat karena dosanya dilipatgandakan melebihi bulan-bulan biasa.
1. Makna Penamaan: Kata Muharram berasal dari akar kata *harama*, yang berarti terlarang, suci, atau dihormati. Bangsa Arab sejak masa jahiliyah hingga datangnya Islam sepakat menghentikan peperangan pada bulan ini.
2. Status Syahrullah: Rasulullah SAW secara khusus menjuluki Muharram sebagai *Syahrullah* (Bulan Allah), sebuah bentuk pemuliaan tertinggi bagi bulan pertama dalam kalender Hijriyah.
3. Konsekuensi Amal: Berbuat zalim atau maksiat di bulan Muharram dosanya jauh lebih berat, sebaliknya amal saleh dan ibadah kebajikan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT.
Asal-Usul Penamaan Bulan Muharram
Secara etimologi bahasa Arab, *Al-Muharram* (المحرّم) merupakan bentuk isim maf'ul dari kata *harrama-yuharrimu-tahriiman* yang berarti "diharamkan" atau "disucikan". Dahulu pada zaman jahiliyah sebelum Islam, bulan ini dikenal dengan nama *Shafar Al-Awwal*, sedangkan bulan berikutnya dinamakan *Shafar Ats-Tsani*.
Bangsa Arab kemudian mengganti sebutan bulan pertama ini menjadi *Al-Muharram* untuk menegaskan status kesuciannya. Pada masa itu, tradisi Arab kerap diwarnai perang antarsuku yang tiada henti. Namun ketika masuk bulan Muharram, seluruh senjata wajib diletakkan, pedang dimasukkan ke dalam sarungnya, dan gencatan senjata diberlakukan secara mutlak. Islam kemudian datang mengukuhkan kemuliaan bulan ini tanpa mengubah esensi kehormatannya.
Penamaan Muharram sebagai bulan pertama kalender Islam diresmikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu saat musyawarah penetapan kalender Hijriyah bersama para sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Pemilihan Muharram didasarkan pada momentum usainya ibadah haji di bulan Dzulhijjah, di mana kaum muslimin kembali ke kampung halaman mereka dalam keadaan bersih dari dosa, siap membuka lembaran tahun baru.
Kedudukan Muharram dalam Al-Qur'an dan Hadits
Allah SWT secara tegas menyebutkan keberadaan empat bulan haram (mulia/disucikan) di dalam Al-Qur'an:
*“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu…”*
(QS. At-Taubah: 36)
Empat bulan haram tersebut dipertegas secara rinci oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu:
*“Setahun terdiri dari dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Al-Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.”*
(HR. Al-Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)
Mengapa Muharram Disebut "Syahrullah"?
Dari seluruh bulan dalam kalender Hijriyah, hanya Muharram yang disandarkan langsung pada nama Allah (*Syahrullah* / Bulan Allah) oleh lisan Nabi SAW:
*“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.”*
(HR. Muslim no. 1163)
Para ulama menjelaskan bahwa penyandaran kata "bulan" kepada "Allah" (*Idhafah at-Tasyriif*) menunjukkan keagungan dan pengkhususan status Muharram di mata Allah SWT, serupa dengan sebutan *Baitullah* untuk Ka'bah.
Makna Larangan Menzalimi Diri Sendiri
Firman Allah *“maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu”* menjadi pedoman pokok bagi setiap muslim di bulan Muharram. Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan makna ayat ini dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim:
*“Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan-bulan haram, memuliakan kehormatannya, menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dosanya, dan menjadikan amalan saleh serta pahalanya jauh lebih besar.”*
Menzalimi diri sendiri mencakup dua hal:
- 1.Dosa Vertikal: Berbuat syirik, meninggalkan kewajiban salat lima waktu, melalaikan syariat, atau melakukan hal-hal yang diharamkan Allah.
- 2.Dosa Horizontal: Mengadu domba, menyebarkan fitnah, memakan harta haram, serta menyakiti hak orang lain.
Di bulan Muharram, sanksi spiritual atas pelanggaran hukum Allah berbobot lebih berat karena pelanggaran dilakukan di waktu yang telah disucikan oleh-Nya.
Amalan Sunnah Utama di Bulan Muharram
Untuk mengisi kemuliaan bulan Muharram, umat Islam dianjurkan menjalankan sejumlah amalan prioritas:
- Amalan: Puasa Asyura; Waktu Pelaksanaan: 10 Muharram; Keutamaan / Landasan: Menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu (HR. Muslim).
- Amalan: Puasa Tasu'a; Waktu Pelaksanaan: 9 Muharram; Keutamaan / Landasan: Menyelisihi tradisi ibadah kaum Yahudi (HR. Muslim).
- Amalan: Memperbanyak Puasa Sunnah; Waktu Pelaksanaan: Kapan saja di bulan Muharram; Keutamaan / Landasan: Bentuk puasa paling utama setelah puasa Ramadan.
- Amalan: Sedekah & Taubat Nasuha; Waktu Pelaksanaan: Sepanjang bulan; Keutamaan / Landasan: Menggandakan pahala kebaikan dan menyucikan harta.
Bagi jamaah yang hendak menunaikan ibadah Umroh di awal musim (awal tahun Hijriyah), bulan Muharram merupakan momentum tepat untuk memulai safar suci ke Tanah Suci karena suasana Masjidil Haram relatif lebih tenang dibanding puncak musim haji atau Ramadan.
Pertanyaan Seputar Bulan Muharram (FAQ)
1. Mengapa puasa Asyura 10 Muharram disunnahkan digabung dengan tanggal 9 Muharram?
Nabi Muhammad SAW memerintahkan umatnya berpuasa pada tanggal 9 Muharram (*Tasu'a*) mendampingi puasa tanggal 10 Muharram (*Asyura*) bertujuan untuk membedakan amalan umat Islam dengan kaum Yahudi di Madinah yang hanya berpuasa di hari ke-10 untuk memperingati selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
2. Apakah ada anjuran amalan khusus seperti mandi atau memakai celak pada 10 Muharram?
Tidak ada dalil shahih yang memerintahkan amalan khusus seperti ritual mandi tobat massal, mengusap kepala anak yatim dengan keyakinan tertentu, maupun memakai celak mata pada 10 Muharram. Seluruh hadits terkait hal tersebut dinilai lemah (*dha'if*) bahkan palsu (*maudhu'*) oleh ulama hadits terkemuka. Amalan yang tegas disyariatkan dari sunnah Nabi SAW adalah memperbanyak puasa, bertaubat, bersedekah, dan memperbanyak zikir.
3. Apakah di bulan Muharram dilarang mengadakan pernikahan atau hajatan?
Tidak ada larangan syariat untuk menikah, pindah rumah, atau menggelar hajatan di bulan Muharram. Anggapan bahwa bulan Muharram (atau bulan Suro dalam tradisi lokal) merupakan bulan sial yang mendatangkan musibah adalah mitos tahayul (*thiyarah*) yang bertentangan dengan aqidah tauhid. Muharram adalah bulan penuh berkah dan seluruh hari di dalamnya baik untuk beramal kebaikan.
Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi
Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda
Untuk konsultasi pemilihan paket, ketersediaan kursi penerbangan, dan pendaftaran resmi:
Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel
Akreditasi ADisusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.
Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?
Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.



