
Bagi jamaah luar kota Makkah (termasuk jamaah haji dan umroh asal Indonesia), memperbanyak **thawaf sunnah jauh lebih utama daripada shalat sunnah** saat berada di Masjidil Haram. Namun, jika shalat yang...
Bagi jamaah luar kota Makkah (termasuk jamaah haji dan umroh asal Indonesia), memperbanyak thawaf sunnah jauh lebih utama daripada shalat sunnah saat berada di Masjidil Haram. Namun, jika shalat yang dimaksud adalah shalat fardhu berjamaah yang sudah masuk waktunya, maka shalat wajib tentu harus didahulukan di atas amalan apa pun.
1. Prioritas Pendatang vs Warga Lokal: Mayoritas ulama (jumhur) sepakat bahwa thawaf sunnah lebih utama bagi musafir/pendatang (*al-ghuraba*), sedangkan shalat sunnah lebih utama bagi penduduk asli Makkah.
2. Keunikan Ibadah Ka'bah: Thawaf hanya bisa dikerjakan di Masjidil Haram dan tidak ada gantinya di belahan bumi mana pun, sementara shalat sunnah dapat dikerjakan di mana saja seumur hidup.
3. Fleksibilitas Waktu: Thawaf sunnah dan shalat dua rakaat setelahnya boleh dilakukan kapan saja, termasuk pada waktu-waktu terlarang shalat biasa (setelah Subuh dan setelah Ashar) menurut mazhab Syafi'i.
Kedudukan Thawaf dan Shalat Sunnah Menurut Kitab I'anatut Thalibin
Perbedaan pandangan ulama mengenai prioritas amalan ini dirangkum secara gamblang oleh Syekh Abu Bakar Syatha dalam kitab rujukan fikih Mazhab Syafi'i, *I‘anatut Thalibin*. Beliau mengutip riwayat dari sahabat dan tabi'in terkemuka:
اختلف العلماء في الصلاة والطواف في المسجد الحرام – أيهما أفضل؟ فقال ابن عباس وسعيد بن جبير وعطاء ومجاهد: الصلاة لأهل مكة أفضل، وأما الغرباء، فالطواف لهم أفضل. وقال بعضهم: الطواف أفضل مطلقا.
Ibnu Abbas, Sa‘id bin Jubair, ‘Atha, dan Mujahid berpendapat bahwa shalat sunnah lebih utama bagi penduduk asli Makkah. Sementara bagi orang asing atau pendatang (termasuk jamaah umroh Indonesia), thawaf merupakan amalan yang paling utama. Sebagian ulama lain bahkan menegaskan bahwa thawaf lebih utama secara mutlak bagi siapa pun karena kekhususan tempatnya di sisi Ka'bah.
Alasannya sangat logis secara fikih lapangan: kesempatan thawaf terikat langsung oleh ruang dan waktu. Jamaah Indonesia hanya tinggal di Makkah dalam rentang hari yang terbatas (biasanya 4–6 hari dalam paket umroh reguler). Setelah pulang ke tanah air, ibadah thawaf tidak mungkin diulang, sedangkan shalat sunnah masih dapat ditegakkan di masjid-masjid tanah air.
Dilema Waktu Subuh: Thawaf atau Duduk Berdzikir Hingga Terbit Matahari?
Banyak jamaah bingung mengatur ritme ibadah di waktu pagi. Setelah shalat Subuh berjamaah di pelataran Ka'bah, manakah yang lebih dianjurkan: langsung turun ke area Mataf untuk thawaf sunnah, atau bertahan duduk berdzikir hingga matahari terbit (waktu Isyraq)?
Syekh Abu Bakar Syatha mencatat dua kutub pendapat ulama:
- 1.Pendapat Pertama (Imam Shihabuddin ar-Ramli): Mengutamakan thawaf. Beliau memandang orang yang berthawaf sejatinya juga sedang berdzikir dan berdoa. Sehingga ia mendapatkan dua keutamaan sekaligus: fadhilah thawaf fisik mengelilingi Ka'bah dan fadhilah lisan yang melafalkan doa/dzikir.
- 2.Pendapat Kedua (Ibnu Hajar al-Haitami): Mengutamakan duduk berdzikir di tempat shalat hingga masuk waktu dhuha awal (Isyraq), kemudian shalat dua rakaat. Landasannya adalah hadis shahih:
*"Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umroh sempurna, sempurna, sempurna."* (HR. Tirmidzi).
Sebagian ulama juga mempertimbangkan hukum makruh shalat sunnah mutlak setelah shalat Subuh. Namun, mazhab Syafi'i memfatwakan bahwa shalat sunnah thawaf dua rakaat adalah shalat yang memiliki sebab terdahulu (*dzawatul asbab*), sehingga tetap sah dan tidak makruh dikerjakan meski tepat setelah shalat Subuh atau Ashar.
Rekomendasi Alur Waktu Ibadah Harian Jamaah
Agar jamaah tidak kelelahan fisik namun tetap meraih pahala maksimal, gunakan panduan praktis berikut: Waktu Lapangan | Tindakan yang Disarankan | Alasan Syar'i & Teknis Lapangan |
:--- | :--- | :--- |
Masuk Masjid (Waktu Normal) | Thawaf Sunnah (sebagai pengganti Tahiyyatul Masjid) | Sunnah bagi yang berniat langsung mengelilingi Ka'bah. |
Masuk Masjid (Iqamah Mendekat) | Langsung Shalat Tahiyyatul Masjid / Tunggu Shalat Fardhu | Shalat fardhu tidak boleh dipotong oleh thawaf sunnah. |
Bada Subuh & Bada Ashar | Thawaf Sunnah atau Dzikir Pagi/Petang | Manfaatkan suhu pelataran yang masih teduh untuk thawaf. |
Tengah Hari (Dzuhur/Ashar) | Fokus Shalat Fardhu & I'tikaf di Dalam Gedung AC | Hindari sengatan panas matahari ekstrem di pelataran terbuka. |
Sepertiga Malam (Pukul 02.00 - 04.00) | Thawaf Sunnah & Shalat Tahajjud | Area Mataf relatif lebih lapang dibanding sore atau malam hari. |
Panduan Thawaf Sunnah di Area Mataf Saat Ini
Berdasarkan regulasi pengelola Dua Masjid Suci, lantai dasar pelataran Ka'bah (Mataf) terkadang diprioritaskan bagi jamaah yang mengenakan pakaian ihram (umroh aktif). Bagi jamaah yang hendak melakukan thawaf sunnah dengan pakaian biasa:
- 1.Cek pintu masuk pelataran bawah. Jika petugas Asykar membatasi pakaian non-ihram, arahkan langkah ke lantai 1, mezanin, atau area *roof* (lantai atap).
- 2.Niatkan thawaf sunnah 7 putaran tanpa perlu mengambil miqat atau berganti kain ihram.
- 3.Jaga wudhu selama putaran. Jika batal, segera keluar ke toilet terdekat untuk berwudhu dan lanjutkan putaran yang tersisa menurut pendapat yang kuat, atau ulangi dari awal demi kehati-hatian.
- 4.Akhiri dengan shalat sunnah thawaf dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, atau di area mana saja di dalam Masjidil Haram.
Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi
Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda
Tanya Jawab Jamaah (FAQ)
1. Apakah saat masuk Masjidil Haram saya harus shalat Tahiyyatul Masjid terlebih dahulu atau langsung Thawaf?
Bagi orang yang berniat langsung mengerjakan thawaf (baik thawaf umroh maupun thawaf sunnah), maka penghormatan (*tahiyyah*) untuk Masjidil Haram adalah thawaf itu sendiri. Anda tidak perlu shalat Tahiyyatul Masjid terlebih dahulu. Namun, jika Anda masuk hanya untuk duduk menunggu adzan, membaca Al-Qur'an, atau mendengarkan majelis taklim tanpa berniat thawaf saat itu juga, disunnahkan mengerjakan shalat Tahiyyatul Masjid dua rakaat.
2. Apakah sah shalat sunnah thawaf dikerjakan setelah shalat Ashar atau Subuh?
Sah dan diperbolehkan dalam mazhab Syafi'i. Shalat sunnah thawaf termasuk shalat yang memiliki sebab terdahulu (*salat dzawatul asbab*), sehingga gugur larangan shalat pada waktu-waktu makruh (setelah Ashar hingga Maghrib dan setelah Subuh hingga terbit fajar).
3. Berapa kali batasan maksimal thawaf sunnah dalam sehari bagi jamaah umroh?
Tidak ada batasan jumlah putaran atau frekuensi dalam syariat. Anda boleh melakukannya sebanyak kemampuan fisik Anda. Ukur kondisi kesehatan dan daya tahan kaki agar ibadah wajib, shalat fardhu berjamaah, dan agenda rukun umroh tidak terganggu akibat kelelahan atau dehidrasi.
Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel
Akreditasi ADisusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.
Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?
Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.


