
Kota Jeddah (bahasa Arab: جدة) merupakan kota pelabuhan utama di pesisir barat Arab Saudi yang menghadap langsung ke Laut Merah. Bagi jutaan jamaah haji dan umroh asal Indonesia, Jeddah adalah...
Kota Jeddah (bahasa Arab: جدة) merupakan kota pelabuhan utama di pesisir barat Arab Saudi yang menghadap langsung ke Laut Merah. Bagi jutaan jamaah haji dan umroh asal Indonesia, Jeddah adalah gerbang masuk terpenting sebelum melanjutkan perjalanan darat atau kereta cepat menuju Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah. Kota ini memadukan nilai historis peradaban Islam dengan pusat logistik dan ekonomi modern Kerajaan Arab Saudi.
Poin Penting
- 1.Pintu Gerbang Utama Dua Tanah Suci: Diresmikan pertama kali sebagai pelabuhan resmi jamaah haji oleh Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 647 Masehi.
- 2.Pusat Logistik dan Transportasi Modern: Menampung Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA) dengan Terminal Haji terbesar serta stasiun Kereta Cepat Haramain (HHR).
- 3.Hukum Miqat Jamaah Umroh: Memahami letak geografis Jeddah sangat krusial bagi jamaah yang mendarat di bandara ini terkait sahnya niat ihram dan pengambilan miqat.
Sejarah dan Perkembangan Kota Jeddah
Perjalanan sejarah Jeddah mencakup rentang waktu ribuan tahun, bertransformasi dari perkampungan nelayan kecil hingga menjadi kota metropolitan modern.
1. Masa Kuno dan Asal-Usul Penamaan
Jeddah diperkirakan telah dihuni manusia sejak sekitar 2.500 tahun lalu, awalnya oleh suku nelayan Quda'a setelah runtuhnya Bendungan Ma'rib di Yaman.
Secara etimologi, nama kota ini umumnya dilafalkan dalam tiga dialek: *Jaddah* (bermakna nenek), *Jiddah* (tepi pantai/pantai berair), dan *Juddah* (garis bukit pasir atau jalur perjalanan). Pendapat paling populer di kalangan masyarakat setempat mengaitkannya dengan kata *Jaddah* (nenek), merujuk pada tradisi tutur bahwa Hawa (istri Nabi Adam AS) diturunkan ke bumi dan dimakamkan di wilayah ini, tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Kompleks Pemakaman Siti Hawa di Al-Ammariyah.
2. Penetapan Pelabuhan Haji Era Khalifah Utsman bin Affan (647 M)
Sebelum masa kekhalifahan Islam, pelabuhan utama masyarakat Makkah berada di Asy-Syu'aibah (selatan Jeddah). Pada tahun 26 Hijriah (647 Masehi), Khalifah Utsman bin Affan memutuskan memindahkan pelabuhan laut resmi penyambut jamaah haji ke Jeddah karena lokasinya yang lebih dekat dan jalur daratnya lebih mudah ditempuh menuju Makkah (kurang lebih 75–80 km). Keputusan strategis ini mengukuhkan posisi Jeddah selama berabad-abad sebagai pusat persinggahan jamaah dari Yaman, Afrika Utara, Persia, India, hingga wilayah Nusantara.
3. Era Mamluk dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman)
Pada masa Dinasti Mamluk (abad ke-15) dan Kesultanan Utsmaniyah (mulai abad ke-16), nilai pertahanan Jeddah meningkat drastis. Sultan Mamluk, Qansuh al-Ghuri, membangun benteng batu tebal dan gerbang kokoh untuk membendung ancaman armada Portugis di Laut Merah.
Pada era Utsmaniyah, Jeddah berkembang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah internasional sekaligus pos pertahanan maritim utama wilayah Hijaz. Arsitektur rumah bertingkat dengan kisi-kisi jendela kayu ukir khas Hijaz (*rawashin*) berkembang pesat pada era ini.
4. Masa Kerajaan Arab Saudi Modern
Pada tahun 1925, Raja Abdulaziz Al Saud mengintegrasikan Jeddah ke dalam Kerajaan Arab Saudi setelah berakhirnya era Syarif Makkah. Sejak saat itu, Jeddah diarahkan menjadi pusat diplomasi, perdagangan luar negeri, dan perbankan syariah. Jeddah juga menjadi kantor pusat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan markas Bank Pembangunan Islam (IDB).
Ikon dan Kawasan Strategis di Jeddah
Jeddah memiliki perpaduan situs bersejarah dan fasilitas logistik modern yang langsung bersentuhan dengan operasional ibadah jamaah:
1. Kawasan Bersejarah Al-Balad (UNESCO World Heritage)
Kawasan kota tua Al-Balad mempertahankan bangunan dari abad ke-19 yang terbuat dari batu karang Laut Merah, kayu jati impor, dan ventilasi kayu *roshan*. Tempat ini sering dikunjungi jamaah saat agenda tur keliling kota sebelum kepulangan ke tanah air. Di sini terdapat pasar tradisional Souq Al-Alawi dan Masjid Al-Syafi'i yang bersejarah.
2. Bandara Internasional King Abdulaziz (KAIA)
Fasilitas ini memiliki Terminal 1 modern serta Terminal Haji khusus dengan atap tenda teflon raksasa berarsitektur peraih penghargaan internasional. Bandara ini juga terhubung langsung dengan stasiun Kereta Cepat Haramain (Haramain High-Speed Railway/HHR), memungkinkan jamaah menjangkau Makkah dalam waktu 45–55 menit dan Madinah dalam waktu 1 jam 50 menit.
3. Jeddah Islamic Port (Pelabuhan Islam Jeddah)
Pelabuhan kargo terbesar di Arab Saudi yang menangani mayoritas arus barang impor, logistik pangan, serta pergerakan ternak untuk kebutuhan dam/hadyu jamaah haji selama musim puncak.
4. Jeddah Corniche dan Masjid Terapung (Masjid Al-Rahmah)
Jalur tepi laut sepanjang puluhan kilometer yang menghadap Laut Merah. Di area ini berdiri Masjid Al-Rahmah, masjid dengan pondasi pilar di atas permukaan air laut yang kerap menjadi destinasi persinggahan istirahat jamaah Indonesia sebelum menuju bandara.
Ketentuan Fikih dan Teknis Jamaah di Jeddah
Berikut panduan teknis yang wajib diperhatikan jamaah haji dan umroh saat melewati Kota Jeddah:
- 1.Rute Perjalanan Jamaah:
- 2.Landing KAIA Jeddah > Langsung Makkah (Ihram dari Atas Pesawat/Yalamlam)
- 3.Landing Madinah > Makkah via Bir Ali > Pulang via KAIA Jeddah
1. Titik Miqat Jamaah yang Mendarat di Jeddah
Bagi jamaah yang mengambil rute penerbangan langsung Indonesia - Jeddah (Direct Flight) untuk langsung melaksanakan ibadah umroh di Makkah:
- Mayoritas ulama dan ketentuan resmi Komisi Fatwa MUI menegaskan bahwa Jeddah bukan tempat miqat asal bagi jamaah yang datang dari luar wilayah miqat (afaqi).
- Jamaah wajib sudah mengenakan kain ihram sejak di bandara keberangkatan di Indonesia atau berganti pakaian sebelum pesawat melintasi titik sejajar miqat (Qarnul Manazil/Yalamlam). Niat umroh dilafalkan di atas pesawat saat kapten mengumumkan posisi telah memasuki area miqat.
- Jika jamaah sengaja menunda niat dan baru berihram setibanya di Bandara Jeddah tanpa uzur syar'i, jamaah dikenakan denda seekor kambing (dam).
2. Miqat Jamaah Transit Madinah ke Makkah
Bagi jamaah dengan skema Madinah terlebih dahulu, miqat diambil di Dzulhulaifah (Bir Ali). Kota Jeddah biasanya hanya disinggahi pada hari terakhir kepulangan menuju Indonesia sebagai titik transit menuju Bandara KAIA.
Pertanyaan Jamaah (FAQ)
1. Apakah jamaah umroh boleh mengambil miqat di Bandara Jeddah?
Tidak boleh bagi jamaah yang baru mendarat dari Indonesia dengan niat langsung melaksanakan umroh. Batas miqat jamaah yang terbang melintasi rute selatan/timur adalah Yalamlam atau Qarnul Manazil di udara. Miqat di Jeddah hanya sah bagi penduduk asli Jeddah atau orang yang telah bermukim/menginap sementara di Jeddah dengan urusan lain sebelum berniat umroh.
2. Berapa lama waktu perjalanan darat dari Jeddah menuju Makkah?
Menggunakan bus pariwisata antar kota, waktu tempuh rata-rata adalah 1,5 hingga 2 jam (tergantung titik pemeriksaan *check-point* Jumum/Shumaisi). Jika menggunakan Kereta Cepat Haramain dari Bandara KAIA, waktu tempuh menuju Stasiun Makkah Rusayfah hanya berkisar 45–55 menit.
3. Tempat belanja apa yang populer bagi jamaah Indonesia di Jeddah?
Jamaah umumnya berkunjung ke Corniche Commercial Center (Balad) atau Ali Murabba untuk membeli kurma, kacang arab, pakaian gamis, abaya, dan perlengkapan ibadah. Transaksi di kawasan Al-Balad umumnya menerima pembayaran kartu debit/kredit internasional, Riyal tunai, dan pedagang setempat terbiasa melayani pembeli berbahasa Indonesia.
Pusat Layanan Konsultasi & Pendaftaran Resmi
Samira Travel – Sahabat Umrah & Haji Keluarga Anda
Dewan Asatidz & Bimbingan Ibadah Samira Travel
Akreditasi ADisusun dan ditinjau secara berkala oleh Muthawwif tersertifikasi BNSP alumni universitas terkemuka Timur Tengah. Materi diselaraskan dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW serta regulasi visa Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi.
Ingin Jadwal & Informasi Paket Terkait Topik Ini?
Dapatkan konsultasi gratis mengenai jadwal penerbangan langsung 11 kota, fasilitas hotel bintang 5 pelataran masjid, dan bimbingan manasik intensif bersama Samira Travel.



